Selasa, 03 Juli 2012

Damar Wulan


Cerita Versi  juru kunci
Makam Puteri Campa  ternyata letaknya memasuki pemukiman penduduk. Bangunannya masih terawat. Di sana ada tempat tetirahan, makam keluarga Puteri Campa dan abdi kinasih. Sedangkan makam Puteri Campa ada di belakang bersama suaminya, Damarwulan. Ketika jurukunci menyebut nama Damarwulan saya merasa heranan. Rupanya Puteri Campa sebelum menjadi istri Damarwulan telah berdiam di Medan sebagai istri salah seorang pembesar kerajaan. Setelah kerajaan tersebut ditaklukan oleh Majapahit, maka Puteri Campa tersebut menjadi istri Raja Majapahit yang bergelar Brawijaya. Puteri Campa yang merupakan selir raja inilah yang mengandung Raden Patah, raja pertama Kerajaan Demak.
Dikisahkan Damarwulan yang telah beristrikan Anjasmara berhasil mengalahkan Menakjinggo sehingga dinobatkan menjadi Raja Majapahit dan menikah dengan Ratu Kenconowungu. Kekalahan Menakjinggo ini berkat petunjuk dua istri Menakjinggo yang kemudian juga menjadi istri Damarwulan.
Saya masih beranggapan kisah Damarwulan adalah kisah dongeng sehingga masih terheran-heran ketika mendengar dari kisah juru kunci bahwa Damarwulan adalah Brawijaya terakhir yang ditundukkan oleh anaknya sendiri, Raden Patah. Dari kisah sejarah yang masih saya ingat, Prabu Brawijaya kecewa oleh penaklukan anaknya, dan menyatakan bahwa tidak akan ada lagi kerajaan sebesar Majapahit dan Beliau bertitah pada anaknya untuk membiarkannya tetap memeluk agama Hindu.
Menurut juru kunci, Puteri Campa dan suaminya beragama Islam. Menurut pak Koes suaminya masih beragama Hindu, karena saking cintanya dia di makamkan bersama istrinya dan tidak di bakar. Karena pikiran telah bercampur aduk antara khayalan dan realita, saya meragukan kebenaran cerita si juru kunci.
Cerita Versi  Sri Adi Oetomo (Budayawan & Pemerhati Sejarah Blambangan)[2].
Menurut ceritera, Prabu Menakjinggo yang dianggap sebagai raja Blambangan yang telah berani meminang Sri Ratu Kencanawungu atau (Prabu Kenya) dianggap kekuasaan serta telah melakukan kejahatan yang berlebih- lebihan, karena maharani Majapahit itu seharusnya dihormati dan dimuliakannya sebagai Ratunya. Sedang kedua permaisurinya, yakni Dewi Waita dan Dewi Puyengan juga dilukiskan sebagai wanita pengkhianat yang tidak memiliki kesetiaan terhadap suami dan negara. Itulah sebabnya kerajaan yang diperintah oleh Prabu Menakjinggo dianggap sebagai lambang kejahatan yang disebut “Kerajaan Blambangan”.
Sementara itu ceritera Menakjinggo Damarwulan yang bersumber dari luar daerah Blambangan, maksudnya baik bersumber dari Serat Damarwulan dan Serat Kandha maupun dari Kesenian Langendriyan, lukisan ceriteranya selalu memburuk-burukkan pihak Blambangan, terutama tindakan Prabu Menakjinggo dan perilaku kedua perilmaisurinya, yakni Dewi Waita dan Dewi Puyengan beserta para narapraja dari kerajaan ini. Dalam hal ini jelas bertentangan dengan fakta sejarah, khususnya berbagai peristiwa sejarah yang pernah mewarnai jalannya sejarah Blambangan.
diambil dari Blog saya: www.sejarahindonesia75.blogspot.com Fakta atau legenda  
oleh: Moch Rif’an 

3 komentar:

  1. ni makam damar wulan asli di bondowoso. yang saya tau dari kakek dan famili saya yang sepuh, yang dulu menjadi komando dari barisan pagar nusa di daerah patirono ,makam damar wulan itu ada di gunung patirono desa patirono kota bondowoso ,dan disanapun saya menjumpai dan ziaroh ke makam damar wulan dan makam orang sepuh kuno yang memberi tau klo disana makam damar wulan, dan di makam sang penunjuk terdapat sebuah arca ,dan makam damar wulan sendiri ada di barat nya makam sang penujjuk yang berjarak perkiraan 100meter, dan makam damar wulan ber bentuk bulat yang di kelilingi batu yang berbentuk persegi panjang dan berdiri,klo seum pamanya anda seorang yang bisa ilmu batin/seperti para normal ,anda bisa dipastikan bisa melihat pusaka dan peninggalan orang sakti kuno yang beterbangan yang seperti meteor dan selalu ber pindah dari gunung kegunung sekitar nya ,dan INGAT andaikan anda ber minat untuk ber kunjung ,janganlah sekali kali melaku/bertingkah se enak nya apa lagi narik pusaka di sana , dan banyaklah bertanya pada warga desa patirono,dan ingat jangan menantang apapun disana

    BalasHapus
  2. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  3. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus