Cerita
Versi juru kunci
Makam Puteri Campa ternyata
letaknya memasuki pemukiman penduduk. Bangunannya masih terawat. Di sana ada
tempat tetirahan, makam keluarga Puteri Campa dan abdi kinasih. Sedangkan makam
Puteri Campa ada di belakang bersama suaminya, Damarwulan. Ketika jurukunci
menyebut nama Damarwulan saya merasa heranan. Rupanya Puteri Campa sebelum
menjadi istri Damarwulan telah berdiam di Medan sebagai istri salah seorang
pembesar kerajaan. Setelah kerajaan tersebut ditaklukan oleh Majapahit, maka
Puteri Campa tersebut menjadi istri Raja Majapahit yang bergelar Brawijaya.
Puteri Campa yang merupakan selir raja inilah yang mengandung Raden Patah, raja
pertama Kerajaan Demak.
Saya masih beranggapan kisah Damarwulan
adalah kisah dongeng sehingga masih terheran-heran ketika mendengar dari kisah
juru kunci bahwa Damarwulan adalah Brawijaya terakhir yang ditundukkan oleh
anaknya sendiri, Raden Patah. Dari kisah sejarah yang masih saya ingat, Prabu
Brawijaya kecewa oleh penaklukan anaknya, dan menyatakan bahwa tidak akan ada
lagi kerajaan sebesar Majapahit dan Beliau bertitah pada anaknya untuk
membiarkannya tetap memeluk agama Hindu.
Menurut juru kunci, Puteri Campa dan
suaminya beragama Islam. Menurut pak Koes suaminya masih beragama Hindu, karena
saking cintanya dia di makamkan bersama istrinya dan tidak di bakar. Karena
pikiran telah bercampur aduk antara khayalan dan realita, saya meragukan
kebenaran cerita si juru kunci.
Cerita Versi Sri Adi Oetomo (Budayawan & Pemerhati Sejarah
Blambangan)[2].
Menurut ceritera, Prabu Menakjinggo
yang dianggap sebagai raja Blambangan yang telah berani meminang Sri Ratu
Kencanawungu atau (Prabu Kenya) dianggap kekuasaan serta telah melakukan
kejahatan yang berlebih- lebihan, karena maharani Majapahit itu seharusnya
dihormati dan dimuliakannya sebagai Ratunya. Sedang kedua permaisurinya, yakni
Dewi Waita dan Dewi Puyengan juga dilukiskan sebagai wanita pengkhianat yang
tidak memiliki kesetiaan terhadap suami dan negara. Itulah sebabnya kerajaan
yang diperintah oleh Prabu Menakjinggo dianggap sebagai lambang kejahatan yang
disebut “Kerajaan Blambangan”.
Sementara itu ceritera Menakjinggo
Damarwulan yang bersumber dari luar daerah Blambangan, maksudnya baik bersumber
dari Serat Damarwulan dan Serat Kandha maupun dari Kesenian Langendriyan,
lukisan ceriteranya selalu memburuk-burukkan pihak Blambangan, terutama tindakan
Prabu Menakjinggo dan perilaku kedua perilmaisurinya, yakni Dewi Waita dan Dewi
Puyengan beserta para narapraja dari kerajaan ini. Dalam hal ini jelas
bertentangan dengan fakta sejarah, khususnya berbagai peristiwa sejarah yang
pernah mewarnai jalannya sejarah Blambangan.
diambil dari Blog saya: www.sejarahindonesia75.blogspot.com Fakta atau legenda
oleh: Moch Rif’an
ni makam damar wulan asli di bondowoso. yang saya tau dari kakek dan famili saya yang sepuh, yang dulu menjadi komando dari barisan pagar nusa di daerah patirono ,makam damar wulan itu ada di gunung patirono desa patirono kota bondowoso ,dan disanapun saya menjumpai dan ziaroh ke makam damar wulan dan makam orang sepuh kuno yang memberi tau klo disana makam damar wulan, dan di makam sang penunjuk terdapat sebuah arca ,dan makam damar wulan sendiri ada di barat nya makam sang penujjuk yang berjarak perkiraan 100meter, dan makam damar wulan ber bentuk bulat yang di kelilingi batu yang berbentuk persegi panjang dan berdiri,klo seum pamanya anda seorang yang bisa ilmu batin/seperti para normal ,anda bisa dipastikan bisa melihat pusaka dan peninggalan orang sakti kuno yang beterbangan yang seperti meteor dan selalu ber pindah dari gunung kegunung sekitar nya ,dan INGAT andaikan anda ber minat untuk ber kunjung ,janganlah sekali kali melaku/bertingkah se enak nya apa lagi narik pusaka di sana , dan banyaklah bertanya pada warga desa patirono,dan ingat jangan menantang apapun disana
BalasHapusKomentar ini telah dihapus oleh pengarang.
BalasHapusKomentar ini telah dihapus oleh pengarang.
BalasHapus